Bahan Tambahan Pangan yang Dilarang atau Bukan Bahan Tambahan Pangan (BBTP)

Bahan Tambahan Kimia yang Dilarang

oleh : natalia purnawati dan rissa N. Afriani
PENDAHULUAN
Atas dasar tujuannya, peggunaan bahan tambahan pangan dapat meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi, meningkatkan kualitas, mengurangi limbah, meningkatkan penerimaan konsumen, meningkatkan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan.
Telah diketahui bahwa banyak komponen pangan, baik alami maupun yang ditambahkan bersifat toksis pada kadar tertentu, namun tidak merugikan atau bahkan dari sudut gizi bersifat esensial pada kadar yang rendah.


Pada banyak Negara, mempunyai hukum atau peraturan tentang bahan tambahan pangan. Peraturan tersebut sering banyak berbeda dalam jumlah bahan tambahan yang diizinkan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan interpretasi hasil penelitian ilmiah yang sangat bervariasi dan perbedaan besarnya risiko yang dapat diterima. Adapun bahan tambahan kimia yang dilarang digunakan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI adalah asam borat atau boraks, asam salisilat, diethylpyrocarbonate, dulcin, potassium chlorate, chloramphenicol, minyak sayur terbrominasi, nitrofurazon, dan formaldehid. Namun demikian, untuk bahan tambahan kimia yang dilarang tidak disertai dengan batas maksimum penggunaan karena secara umum digolongkan ke dalam senyawa yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.
SIFAT KIMIA DAN FISIK SERTA EFEK TERHADAP KESEHATAN
Asam Borat
Asam borat (H3BO3) merupakan senyawa bor yang dikenal juga dengan nama borax. Di Jawa Barat dikenal dengan nama “bleng’, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dikenal dengan nama “pijer”. Digunakan/ditambahkan ke dalam pangan/bahan pangan sebagai pengepal ataupun sebagai pengawet.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan diperoleh data bahwa senyawa asam borat ini didapati pada lontong agar teksturnya menjadi bagus dan kebanyakan pada bakso.
Komposisi asam borat mengandung 99,0% dan 100,5% H3BO3. Mempunyai bobot molekul 61,83 dengan B = 17,50%; H = 4,88%; O = 77,62% berbentuk sebuk hablur kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis.
Efek farmakologi dan toksisitas senyawa boron atau asam borat merupakan bakterisida lemah. Larutan jenuhnya tidak membunuh Staphylococcus aureus. Oleh karena toksisitas lemah sehingga dapat digunakan sebagai bahan pengawet pangan. Walaupun demikian, pemakaian berulang atau absorpsi berlebiihan dapat mengakibatkan toksik (keracunan). Asam borat juga bersifat teratoenik pada anak ayam. Dilihat dari efek farmakologi dan toksisitasnya, maka asam borat dilarang diguakan dalam pangan.

Dulsin
Dulsin atau dulcin juga dikenal dengan nama perdagangan sucrol, valsin merupakan senyawa p-etoxiphenil-urea, p-phenetilurea, atau p-phenetolkarbamida dengan rumus C9H12N2O2.. Dulsin dalam bahan pangan digunakan sebagai pengganti sukrosa bagi orang yang perlu diet (non-nutritive sweetening agent) karena dulsin tersebut tidak mempunyai nilai gizi.

 

 
Gambar Struktur Kimia Molekul Dulsin
Komposisi dan bentuk dulsin secara kimiawi dapat dibuat dari p-phenetididn (C8H11NO) yang direaksikan dengan phosgene (COC12) dan kemudian dengan ammonia atau dapat juga mereaksikan p-phenetididn dengan urea (H2NCONH).
Konsumsi dulsin yang berlebihan akan menimbulkan dampak yang membahayakan terhadap kesehatan, karena ternyata dosis kematian pada anjing sebesar 1,0 gl/2 kg berat badan. Permenkes No.722 Tahun 1988 tidak mengizinkan untuk mengonsumsi dulsin. Kaitan dengan sifatnya yang beracun inilah dulsin tidak diizinkan oleh FDA (Food and Drug Administration) untuk dipakai sebagai pemanis bahan pangan di Amerika Serikat.
Formalin (Formaldehida)
Senyawa ini dipasarkan dikenal dengan nama formalin. Formaldehida merupakan bahan tambahan kimia yang efisien, tetapi dilarang ditambahkan pada bahan pangan (makanan), tetapi ada kemungkinan formaldehid digunakan dalam pengawetan susu, tahu, mie, ikan asin, ikan basah, dan produk pangan lainnya.

 

 

Struktur Banguni Formaldehid
Larutan formaldehid atau larutan formalin mengandung kira-kira 37% gas formaldehid dalam air. Biasnya ditambhakn 10-15% methanol untuk mengjindari polimerisasi. Larutan formaldehid adalah disinfektan yang efektif melawan bakteri relative, jamur, atau virus, tetapi kurang efektif melawan spora bakteri. Formaldehid bereaksi dengan protein, dan hal tersebut mengurangi aktivitas mikroorganisme. Efek sporosidnya yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan suhu. Larutan formaldehid 0,5% dalam waktu 6-12 jam dapat membunuh bakteri dan dalam waktu 2-4 hari dapat membunuh spora. Sedangkan larutan 8% dapat membunuh spora dalam waktu 18 jam.
Sifat antimicrobial dari formaldehid merupakan hasil dari kemampuannya menginaktivasi protein dengan cara mengkondensasi dengan amino bebas dalam protein menjadi campuran lain. Formaldehid dapat merusak bakteri karena bakteri adalah protein. Pada reaksi formaldehid dengan protein, yang pertama kali diserang adalah gugus amina pada posisi dan lisin diantara gugus-gugus polar dari peptidanya. Formaldehid selain menyerang gugus ε-NH2 dari lisin juga menyerang residu tirosin dan histidin.
Formaldehid terdapat dalam bentuk gas HCHO dalam bentuk larutan yang digunakan sebgai antiseptic, untuk menghilangkan bau dan digunakan sebagai bahan fumigasi (bau/kabut) baunya yang tajam merangsang dapat menyebabkan mati lemas. Formalin digunakan sebagai disinfektan untuk rumah, perahu, gudang, kain, sebagai germisida dan fungisida tanaman dan buah-buahan. Dalam bidang farmasi formalin digunakan sebagai pendetoksifikasi toksin dalam vaksin, dan juga untuk obat penyakit kutil karena kemampuannya merusak protein.
Formaldehid memiliki daya antimikroba yang cukup luas, yaitu terhadap Staphylococcus aureus, Eschericia coli, Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aerogenosa, Pseudomonas florescens, Candida albicans, Aspergillus niger, atau Penicillum notatum. Mekanisme formaldehid sebagai pengawet diduga bergabung dengan asam amino bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasi protein.
Berdasarkan uji karsinogenik dan tumor formaldehid terhadap sejumlah tikus yang dipapari formaldehid pada konsentrasi 6-15 bpj menunjukkan 1,5-43,2% mengalami kanker, sedangkan uji terhadap mencit yang dipapari formaldehid pada konsentrasi 15 bpj, 2,4% mencit mengalami tumor.
Formaldehid terdapat juga pada makanan karena kegunaannya sebagai zat bakteriostatik dalam produksi dan formaldehid ditambahkan ke dalam makanan untuk mempertahankan karakteristiknya. Formaldehid dan turunannya juga terdapat dari banyak produk consumer lainnya untuk melindungi produk dari kerusakan akibat kontaminasi mikroorganisme.
Dampak terhadap Kesehatan
Karakteristik risiko yang membahayakan bagi kesehatan manusia yang berhubungan dengan formaldehid adalah berdasarkan konsentrasi dari substansi formaldehid yang terdapat di udara dan juga dalam produk-produk pangan.
Formalin merupakan bahan beracun dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yag menyebabkan keracunan pada tubuh. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, berdifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan), serta orang yang mengonsumsinya akan muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, an kematian yang disebabkan adanya kegagalan peredaran darah.
Formalin dapat bereaksi dengan cepat pada lapisan lendir saluran pencernaan dan saluran pernapasan. Di dalam tubuh bahan ini secara cepat teroksidasi membentuk asam formiat terutama di hati dan sel darah merah. Formaldehid dapat diserap melalui semua jalan saluran lambung atau usus dan paru-paru dan dioksida menjadi asam formic dan sebagian kecil metil format.
Larutan formaldehid bila mengenai kulit dapat menimbulkan warna keputihan disertai dengan pengerasan, serta memberikan efek arestetik. Dermatitis dan reaksi sensitivitas dapat terjadi setelah penggunaan pada konsentrasi yang lazim digunakan, dan setelah kontak dengan residu formaldehid dalam resin.
Khusus mengenai sifatnya yang karsinogenik, formalin termasuk ke dalam karsinogenik golongan IIA. “Golongan I adalah yang sudah pasti menyebabkan kanker, berdasarkan uji lengkap. Sedangkan golongan IIA baru taraf diduga karena data hasil uji pada manusia masih kurang lengkap.” Dalam jumlah sedikit, formalin akan larut dalam air, serta akan dibuang ke luar bersama cairan tubuh, “itu sebabnya formalin sulit dideteksi keberadaannya di dalam darah.”
Dalam dunia kedokteran formalin digunakan sebagai pengawet mayat dan mengawetkan hewan-hewan untuk keperluan penelitian, selain itu juga formalin memiliki funsi sebagai berikut :
Zat antiseptik untuk membunuh mikroorganisme
Desinfektan pada kandang ayam dan sebagainya
Antihydrolik (pengahmbat keluarnya keringat) sehingga sering digunakan sebagai pembuatan deodorant
Bahan campuran dalam pembuatan kertas tissu untuk Toilet
Bahan baku industri : pembuatan lem polywood maupun tekstil
Efek Akut penggunaan formalin adalah :
Tenggorokan dan perut terasa terbakar
Mual,muntah dan kepala pusing
Penurunan suhu badan dan rasa gatal pada dada
Baik dikonsumsi menahun dapat mengakibatkan penyakit kanker
Kandungan formalin dalam bahan makanan dapat diketahui secara akurat setelah dilakukan uji Laboratorium menggunakan reaksi kimia. Berikut ciri-ciri beberapa contoh bahan makanan yang mengandung formalin sebagai bahan pengawet :
1. Bakmi basah
Tidak rusak sampai berhari-hari pada suhu kamar (250C) dan bertahan lebih dari 15 hari dalam lemari Es (100C)
Bau formalin agak menyengat
Mie tampak lebih mengkilat dibandingkan dengan mie normal dan tidak lengket
Tidak dikerumuni lalat
Tekstur mie lebih kenyal
2. Ayam potong
Tidak dikerumuni lalat
Dagingnya sedikit tegang (kaku)
Jika dosisnya formalin yang diberikan makan akan tercium bau formalin
Dalam uji klinisnya, jika daging ayam dimasukan dalam reagen maka akan muncul gelembung gas.
3. Tahu kandungan formalin
Tidak rusak sampai dengan 3 hari pada suhu kamar (250C) dan bertahan dari 15 hari dalam lemari (100C)
Tekstur keras tapi tidak padat
Terasa kenyal ditekan, sedangkan tahu tanpa formalin agak menyengat
Tidak dikerumuni lalat
4. Pentolan Bakso
Tidak rusak sampai 5 hari pada Suhu (250C)
Tekstur sangat kenyal dan tidak dikerumuni lalat

5. Ikan Asin
Tidak rusak sampai > 1 bulan pada suhu (250C)
tambah bersih dan segar
tidak berbau khas ikan Asin
tekstur ikan khas atau keras dan baunya hampir netral (hampir tidak berbau amis)
6. Ikan Segar
Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (250C)
Mata ikan merah tetapi warna langsung merah tua, bukan merah segar dan tidak cemerlang
Warna daging putih, bersih dengan tekstur kaku dan kenyal
Bau hampir spesifik ikan amis, berlendir pada kulit ikan hanya sedikit dan bercium bau spesifik dan kaporit.
Tidak dikerumuni lalat.

Nitrofurazon
Mempunyai rumus kimia C6H6N4O4, dikenal sebagai 2-[(5-Nitro-2-furanyl); Methylene Hydrazinecarboxamide; 5-nitro-2-furaldehyde semicarbazone; dan nama dagang amifur, furazin, chemofuran, furesol, nifuzon, nitrofural, nitrozone, furacinneten, furacoocid, furazol w, mammex, furaplast, coxistat, aldomycin, sefco, serta vabrocid.
Nitrofurazon digunakan dalam pakan ternak (drug in feeds), pada pangan digunakan sebagai senyawa antimikroba, dan mempunyai komposisi kimia sebagai berrikut : Nitrofurazon dibentuk dari 2-formyl-5-nitrofuran dan semicarbazide hydrochloride. Memiliki berat massa 198,14 dengan komposisi C=36,37%; H=3,05%; N=28,28%; O= 32,30%.
Sifat-sifat kimia nitrofurazon adalah berwarna kuning muda, berasa pahit, terukur pada panjangbgelombang maksimum 275 nm. Larut sangat baik dalm air dengan perbandingan 1:4200 dan larut dalam alcohol dengan perbandingan 1:590, dalam propylene glycol dengan prbandingan 1:350. Dapat larut dalam larutan alkalin dengan menujukkan warna jingga terang. Tidak larut dalam eter. Memiliki pH larutan jenuh 6,0-6,5.
Efek farmakologi nitrofurazon dari hasil penelitian terhadap tikus, maka LD50dari zat ini adalah 0,59 g/kg pemberian secara oral. Dan dapat mengakibatkan skin lesion pada kulit serta infeksi pada kandung kemih.

Asam Salisilat
Asam salisilat memiliki rumus kimia C7H6O3. Penggunaan asam salisilat dalam pangan ditambahkan sebagai aroma penguat rasa. Komposisi dan bentuk asam salisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% C7H6O3. Berbentuk hablur ringan tak berwarna, atau serbuk berwarna putih dengan rasa agak manis dan tajam, biasanya tak berwarna, tetapi serbuknya mengiritasi hidung.
Sifat kimia asam salisilat memiliki berat molekul 138,1. Larut dalam 550 bagian air, 55 bagian air mendidih. Asam salisilat mempunyai interval titik lebur 158oC-161oC. tak tercampurkan dengan iodine, garam besi, dan zat pengoksidasi.
Efek terhadap kesehatan dari asam salisilat bersifat iritatif sekali, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Asam salisilat untuk pemakaian luar biasnya 1-5% bentuk serbuk dan lotion. Turunan asam salisilat dapat dipakai secara sistemik adalah ester asam salisilat yang substansinya pada gugus karboksilat dan ester salisilat dari asam organic dengan substsitusi pada gugus organic. Pada pemberian peroral, asam salisilat dapat menimbulakn gangguan epigastrik, pusing, berkeringat, mual dan muntah, karena asam salisilat mempunyai daya korosif dan merusak jaringan yang berkontak, misalnya dengan kulit, mulut, lambung, dan daya korosif itu tergantung pada konsentrasi pemakaian secara kronis dan dalam jumlah yang besar dapat menimbulkan perdarahan lambung. Bila pemakaian terus-menerus maka dapat mengakibatkan anemia defisiensi besi, tetapi jarang terjadi pada dosis kecil. Gejala toksisitas yang serius terjadinya perubahan keseimbangan asam basa dan komposisi elektrolit, yaitu hiperventilasi, demam ketosis, respirasi alkalosis, dan asidosis metabolic.
Absorbs asam salisilat swcar peroral berlangsung cepat, biasanya di lambung dan sebagian di usus halus bagian atas. Kecepatan absorpsi tergantung beberapa faktor, terutama kecepatan desintegrasi dan disolusi, pH pada permukaan mukosa dan waktu pengosongan lambung. Salisilat juga menimbulkan kelainan kulit berupa eritema dan pruritis radang pada kulit.
6. Pottasium Clorat
Memiliki rumus kimia KClO3 penggunaan pada bahan pangan potassium chlorat ditambahkan sebagai bahan tambahan untuk mengawetkan. Komposisi dan bentuk potassium chlorat mengandung tidak kurang dari 99.0 % KCl)3 berbentuk kristal takberwarna atau granul putih atau berbentuk powder.
Sifat-ifat kimia potassium chlorat adalah mempunyai berat molekul 122.55 dengan komposisi Cl=28.93 ; K=31.91% O=39.17%. memiliki densitas 2.32; titik lebur 365C. Di atas suhu ini berubah menjadi perklorat dan oksigen. Satu gram larut perlahan dalam 16.5 ml air, dalam 1.8 ml air menidih, larut pada kira-kira 50ml gliserol ,dan hampir tidak larut dalam alcohol.
Efek terhadp kesehatan deiketahui bahwa penggunaan zat tersebut dalam jumlah besar akan mengakibatkan iritasi terhadap saluran pernafasan, gangguan pada fungsi ginjal, dapat mengakibatkan hemolisis dari sel darah merah dan methemoglobinemia.
7. Chloramphenicol (Kloramfenikol)
Memilik rumus kimia C11H12C12N2O5, dikenal dengan 2.2-dichloro-N-2-hydroxyl-(hydroxymethyl)-2-(nitrophenyl) acetamide, merupakan salah satu golongan antibiotic. Penggunaan chlorampeicol sebagai bahan tambahan pangan digunakan ebagai antimicrobial, terutama ditambahkan pada air susu untuk tujuan mematikan mikroba pengurai pada susu.
Komposisi dan bentuk kloramfenikol memiliki berat molekul 323.14 dengan C=40.88%; H=3.74% Cl=21.95%; N=8.67% dan O=24.76%. memiliki tititk lebur 150.5 – 151.5C, dapat tersublimasi pada tekanan hampa tinggi, mempunyai nilai [α] D΅27 = +18.6⁰C (C=4.86 dalam methanol) [α] d΅25 = -25.5⁰C (dalam etilasetat), larut dlam air pada suhu 25⁰C, sangat larut dalam methanol, ethanol, butanol, dan etilaseton. Agar larut dalam eter.tidak larut dalam benzene, petroleum eter, dan minyak sayur
Efek terhadap kesehatan dari kloramfenikol yang diberikan sebanyak 50mg/kg berat badan pada neonates, terutama yang premature dapat mengalami gray sickness. Kelainan ini berdasar atas belum sempournanya kemampuan hati neonates untuk mengadakan konjugasi kloramfenikol dengan asam glukonat. Kloramfenikol yang tidak mengalami konjugasi masih bersifat toksik.
8. Diethylpyrocarbonate (DEPC)
Diethylpyrocarbonate (DEPC) disebut juga dengan Pyrocarbonic Acid Diethyl Ester. Penggunaan DEPC sebagai antimikroba (Jamur, ragi, dan bakteri) pda produk-produk minuman ringan (nonkarbonasi), minuman sari buah, dan minuman hasil fermentasi.
Pada anggur (wine) jumlah DEPC yang ditambahkan sebelum atau selama proses pembotolan untuk mencegah pertumbuhan pertumbuhan ragi/kapang sekunder, tidak lebih dari 150ppm dapat ditambahkan pada sebelum atau selama pengemasan. Pada minuman ringan nonkarbonasi dan sari buah, batas maksimum penggunaa adalah 300ppm. Diethylpurocarbonate hanya efektif pada produk-produk asam dengan jumlah mikroba rendah, pH harus <4, dan jumlah mikroorganisme ≤500/ml.
Diethylpyrocarbonate berbentuk cairan 2.8.3. Sifat-sifat kimia DEPC tak berwara. DEPC sangat larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic mempunyai aroma seperti buah-buahan. Jika ditambahkan larutan encer akan segera menghidrolisi etanol dan CO2. Terurai lebih cepat pada larutan netral daripad larutan asam. DEPC tidak memberikan rasa atau bau (aroma)pada wine jika digunakan pada tingkatan yang wajar/tepat.
Efek DEPC terhadap kesehatan, dari litertur hasil penelitian senyawa ini memiliki nilai LD50 = 1.1 ml/kg BB, diteliti terhadap tikus mengakibatkan penyusutan berat badan dalam waktu 4 minggu. Pada tes inhalasi, pemmberian udara dengan konsentrasi 0.1 ml/liter, pada tikus dan babi percobaan menjukkan iritasi pada mata dan hidung serta diikuti dengan pusing-pusing.
9. potassium Bromat
Rumus KBrO3 BM = 167.01 ; berbentuk Kristal putih atau granul, densitas = 3.27, titik leleh 350⁰C, bereaksi dengan O2, larut dalam 12.5 bagian air, 2 bagian air mendidih dan larut dalam alcohol. Potassium bromat dapat terhidrolisis menjadi ion K+ dan bromat. Ion kalium ini bersama-sama dengan natrium, klor, dan ion bikarbonat berfungsi untuk menjaga tekanan osmosis cairan tubuh dalam mengatur keseimbangan asam basa pada tubuh. Defisiensi kalium menyebabkan pertumbuhan yang terhambat, lemah, dan tetani yang berakhir dengan kematian. Potassium bromat merupakan bahan kimia yang dalam dosis berlebih dalam tubuh dapat menyebsabkan gejala muntah-muntah, diare methemoglobinemia, dan reunjury (luka).

II . ANALISIS KIMIA
1. Asam Borat
Asam borat dalam pangan dapat ditentukan dengan cara berikut.
Uji kualitatif
Uji kualitatif untuk asam borat tau asam borak dalam pangan terdiri dari uji pendahuluan dan uji konfirmasi dengan prosedur sbb
Uji pendahuluan
Sampel diasamkan dengan HCl (7ml asam untuk setiap 100ml sampel), panaskan sampel padat atau pasta dengan air secukupnya untuk menjadikan larutan sebelum proses pengasaman. Celupkan kertas turmeric ke dalam larutan asam dan angkat segera. Jika terdapat Na₂B₄O₇ atau H₃BO₃, maka kertas berwarna merah akan berubah menjadi warna biru-hijau terang.
Membuat 25gram sampel dalam keadaan basa dengan air kapur atau susu dari kapur dan diuapkan sampai hampir kering pada penangas kukus. Bakar residu kering pada api kecil hingga bhan organic terbakar sepenuhnya. Dinginkan, digest dengan 15ml air, dan tambahkan HCl tetes demi tetes sampai larutan bersifat asam. Celupkan kertas tumerik ke dalam larutn dan keringkan dengan panas. Keberadaan natrium boraks atau asam borat ditunjukkan oleh perubahan warna yang sama seperti pada poin 1)

Metode titimetri
Prosedur percobaan uji asam borat dalam pangan dengan metode titimetri adalah sbb :
Timbang kurang lebih 10gram sampel yang bversifat basa dengan menambahkan larutan NaOH 10% dan diuapkan sampai hampir kering pada cawan petri. Bakar hingga seluruh bahan terbakar, panas api yang kuat didinginkan, diberi 20ml air panas da ditambahkan HCl tetes demi tetes sampai reaksi bersifat asam. Saring ke dalam labu volumetric 100ml dan bilas dengan sedikit air panas (volume filtrate harus antara 50-60 ml). Saring kembali beberapa kali yang tidak teroksidasi pada cawan petri buat hingga bersifat basa dengan air kapur. Keringkan pada penangas kukus, lalu bakar sampai menjadi abu (putih).
Larutkan abu ke dalam beberapa ml HCl (1:3) dan tambahkan pada larutan dalam labu volumetri 100ml, bilas cawan dengan beberapa ml air. Tambahkan 0.5 gram CaCl₂ dan beberapa tetes phenolphthalein, kemudian larutan NaOH 10% sampai dihasilkan warna merah muda yang tetap. Terakhir, larutkan sampai tanda batas dengan air kapur, kocok dan saring melalui saringan kering. 50ml filtrat ditambahkan H₂SO₄1N sampai warna merah muda hilang, kemudian tambahkan metyl jingga 0.05%, ditambahkan terus menerus sampai warna kuning berubah jadi warna merah muda. Didihkan selama 1 menit pada ekspel CO₂. didinginkan dan ditambahkan dengan hati-hati NaOH 0.2 N sampai larutan berubah menjadi warna kuning, hindari kelebihan basa. Tambahkan 1-2 gram neutral manitol dan beberapa tetes phenolptalein dibaca skala biuret dan larutan dititrasi lagi dengan NaOH warna merah muda hilang lanjutkan penambahan manitol dan larutan standar basa sampai warna merah timbul kembali. Ulangi penambahan manitol dan larutan standar absa sampai permanent point tercapai. Volume gliserol (netral terhadap phenolphtalein) sebanding dengan volume larutan yang dititrasi, menggunakan manitol 1ml 0.2 NaOH = 0.0124 gram H₃BO₃.

Metode Spektroskopi Emisi
Prosedur uji senyawa asam borat dalam bahan pangan dengan metode spektroskopi emisi adalah sbb :
Pengukuran boron oksida dilakukan denagn menggunakan nyala N₂OH₂, spectrum celah lebar 5nm, pada panjang gelombang 518 nm. Penekanan background signal diberikan oleh 0μg (blanko) ekstrak sampel B, mendekati 0 pada chart, dan mengecek penguat signal dengan memberikan skala penuh untuk standar B terbesar. Lakukan pembacaan larutan standar untuk setiap kali pengukuran sampel. Ukur puncak setiap standar dan sampel dengan menggunakan 0 μg standarB. Plot kurvs standar dan diperoleh sejumlah B dalam sampel dari kurva ini.
2. Dulsin
a. Uji kualitatif dengan metode Deniges-Tourrou
ekstrak dari 100ml sampel (dibuat basa dengan penambahan larutan 10% NaOH, jika perlu), atau larutan encer ekstrak disiapkan, dua atau tiga porsi 50ml eter. Pisahkan ekstrak disiapkan, dua atau tiga porsi 50ml eter. Pisahkan ekstrak eter dengan sama diantara dua cawan porselen kemudian eter diuapkan pada suhu ruang, dan keringkan residu dalam oven pada suhu 110°C. basahi residu kering diatas HNO₃, tambahkan 1 tetes 1 HCl, dan tambahkan 1 tetes air. Keberadaan dulsin diindikasikan oleh formasi endapan berwarna jingga atau endapan berwarna brick red.
b. Prosedur uji Kualitatif dengan modifikasi metode LaParola-Mariani
Ekstrak dari 100ml sampel (dibuat basa dengan penambahan larutan 10% NaOH, jika perlu) atau larutan encer ekstrak disiapkan, dua atau tiga porsi 50ml eter. Pisahkan ekstrak eter dengan bagian yang sama diantara dua cawan porselen, kemudian eter diuapkan pada suhu ruang, dan keringkan residu dalam oven pada suhu 110°C. residu di atas diberi gas HCl selama 5menit dan tambahkan 1 tetes anisaldehida. Keberadaan dulsin diindikasikan oleh warna merah darah. Sampel dengan konsentrasi 25mg/L atau Kg dapat dideteksi dengan uji ini.
3. Formaldehid
a. Uji Kualitatif
1. Metode asam kromatropat
Persiapan analisis : dicampurkan 10gram contoh dengan 50ml air dengan cara menggerusnya kedalam lumping. Campuran dipindahkan ke dalam labu kjedahl dihubungkan dengan pendingin dan disuling. Hasil sulingan ditampung.
Pereaksi : Larutan jenuh asam 1.8 dihidroksinaftalen 3.6 disulfonat dalam H₂SO₄ 72% (kira-kira 500mg/100ml).
Cara Kerja : Larutan pereaksi sebanyak 5ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 1 ml larutan hasil sulingan sambil diaduk. Tabung reaksi dimasukkan kedalam penangas air yang mendidih selama 15 menit dan amati perubahan yang terjadi. Adanya HCHO ditunjukkan dengan adanya warna ungu terang sampe ungu tua.
2. uji henher – fulton
Larutan pereaksi yang dicampur air boron jenuh (1 bagian) ditambahkan ke dalam larutan asam sulfat dingin dan susu segar bebas aldehid, maka adanya formaldehid ditunjuukkan dengan adanya warna merah muda ungu.
3. uji dengan ferri klorida (untuk contoh susu dan olahannya)
Dengan penambahan pereaksi asam asetat 4N dan etil eter, bila terdapat formaldehid maka akan terbentuk warna merah lembayung.
b. Uji Kuantitatif dengan metode Spektrofotometri
Prinsip metode spektrofotometri didasarkan adanya interaksi dan energin radiasi elektromagnetik dengan zat kimia tempat cahaya putih diubah menjadi cahaya monokromatis yang bisa dilewatkan kedalam larutan berwarna, sebagian cahaya diserap dan sebagian cahay diteruskan.
Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunkan spektrofotometri sebagai berikut. Hasil analisis formalin secara kualitatif positif (berwarna ungu), maka intensitas warna diukur dengan spektrofotometri pada panjang gelombang 560 nm. Semakin tinggi kandungan formaldehida dalam sampel maka nilai absorbansi nya semakin besar. Nilai absorbansi kemudian dibandingkan dengan kurva standar.
4. Nitrofurazon
a. metode kolorimetri
1) Sampel dihancurkan dan diayak dengan ukuran 20 mesh, 10 gram sampel dimasukkan kedalam enlemeyer 125ml, ditambahkan dengan tepat sebanyak 50ml dimethilfornamide (DMF) kemudian disumbat atau ditutup dan didihkan pada penangas air selama 15 menit. Aduk selama 10 menit dan disaring dengan kertas saring. Ke dalam 25 ml air, kemudian diaduk.
2). Menyiapkan kolom adsorbs yang mengandung adsorben sampai ketinggian 5cm. alirkan 50% DMF larutan sampel melewati kolom buang 3ml eluat pertama. Pipet 5ml alikuot eluat ke dalam setiap 2 angka tabung percobaan. Satu tabung dihindarkan dari cahaya. Tabung lainnya ditambahkan 3 tetes 2% larutan sodium hidrosulfit yang baru saja disiapkan dan biarkan 20 menit dikocok tiap selang waktu 5 menit, diuji 5ml aliquot larutan kerja standar dengan cara yang sama.
3). Dipipet 5ml larutan phenylhydrazine-HCl ke dalam tiap tabung percobaan bernomor yang mengandung sampel dan standar. Diaduk dan ditempatkan tabung pada penangas air 70°C selama 25 menit, lalu dinginkan pada penangas air dengan suhu dengan suhu 15°C selama 5 menit. Tambahkan dengan tepat 10 ml toluene pada setiap tabung, tutup dan aduk dengan kuat selama 40 menit. Langsung disentrifugasi atau saring larutan toluene ke dalam kuvet melalui gumpalan kapas yang dimasukkan dalam corong kecil. Baca absorban larutan pada panjang gelombang 440nm.
Perhitungannya :
% nitrofurazon : (A sampel-A sampel tereduksi)/(A standar-A standar) x 0.006
Asam salisilat
Uji Kualitatif
Identifikasi asam salisilat dapat dilakukan dengan cara penambahan larutan ferri klorida 1% membnetuk senyawa Fe (III) salisilat yang berupa kompleks larutan berwarna ungu. Identifikasi yang lebih spesifik dilakukan test jorrison tes tersebut membedakan asam salisilat dengan semua subtansi yang memberikan warna violet dengan besi (III)klorida. Test jorisson dilakukan dengan mereaksikan atau penambahan pereaksi larutan potassium nitrit 10%, asam asetat kira-kira 50%, dan larutan kupri sulfat 1%. Adanya asam salisilat ditunjukkan denganadanya warna merah Bordeaux setelah dicampur dan dididihkan.
Uji Kuantitatif
Penentuan kadar sam salisilat dapat ditentukkan dengan beberapa cara berikut.
Titrasi asam basa dengan menggunakan indicator phenol merah
Cara spektrofotometri lembayung pada panjang gelombang 226nm dan 276nm.
Cara kolorimetri dimana dengan adanya besi (III) klorida, asam salisilat akan memberikan pewarnaan, warna yang terjadi kemudian diukur.
Pottasium Chlorat
Keberadaan potassium klorat dalam pangan secara kuantitatif dapat bdi tentukan dengan metode elektrokimia (katodik volumetri). Kandungannya dapat diukur dari intensitas kurva yang dibentuk.
Chloramphenicol
Prinsip uji chloramphenicol sebagai antimicrobial dalam susu berdasarkan pada reaksi antara gugus fungsional obat dan sisi reseptoir pada sel-sel mikroba yang ditambahkan. Ikatan C dan H ditentukan dengan scintillation counter dan dibandingkan dengan standar zero susu untuk mendeteksi antimicrobial. Jumlah terbesar antibiotic terdapat dalam sampel, hitungan terkecil. Metode ini tidak untuk mendeteksi metabolit, hanya untuk obat aktif.
Sejumlah radioaktivitas yang digunakan dalam metode tersebut cukup rendah seperti yang diberikan dari USNRC dan peraturan pemerintah yang telah ditetapkan.
Penentuan apakah positifganda dalam 1 tabung adalah benar-benar positif atau menghasilkan positif tunggal dan cross talk saluran antara C dan H, sampel diuji kembali dengan tracer tunggal dalam duplikasi dan dibandingkan dengan penentuan 2 zero pembawa dengan tracer tunggal zero, kemudian yang positif adalah untyuk cross talk.
Penentuan kontrol poin: mengatur kontrol poin ≥ 3 standar deviasi ari rata-rata zero. Sebaliknya, gunakan presentase untuk mengstimasi 3 standar deviasi. Untuk penentuan kontrol poin, maengurangi presentasi berikut darei rata-rata penentuan 6 zero.

Diethylpyrocarbonate (DEPC)
Penentuan senyawa DEPC ditentukkan dengan metode titrasi morpholine dari Johnson and Funk. Metode tersebut merupakan metode umum untuk asam anhidrat yang terdapat pada penambahan DEPC akan bercampur, sedangkan produk-produk degradasi tidak bercampur. Akan tetapi ethylchloroformate (sebagai intermediate) dititirasi. Penentuan intermediet dilakukan dengan analisis klorin atau dengan metode gas kromatografi. Anhidrat dihilangkan dengan larutan morpholin berlebih. Reagen yang tidak bereaksi dititrasi kembali dengan larutan standar HCl dalam methanol. Standar deviasi dari metode ini adalah ±0.5%.

 

 

 
DAFTAR PUSTAKA
Cahyadi, Wisnu.,Dr.,Ir.,M.Si.2008.Bahan Tambahan Pangan Edisi kedua.Penerbit Bumi Perkasa:Jakarta
http://lacunata.blogspot.com/2012/12/identifikasi-pengawet-formalin_12.html
jika ingin share, bubuhkan komentar dan like this mpage okee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s