Sudahkah Kita Bersyukur ?

images

Assalamualaikum … Sudahkah kita bersyukur ? Sering kali kita mengartikan bahwa syukur itu hanya dilakukan saat kita mendapatkan sesuatu ynag kta inginkan atau membahagiakan. seperti halnya kita hanya mengucapkan terimakasih saat kita mendapatkan sesuatu dari orang lain, atau mendapatkan hal yang menyenangkan dan sebagainya. begitu juga kebanyakan manusia lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. padahal jika hitung, maka tak terhinggalah nikmat yang kita peroleh. (ada cerita nyata disini :))

Mampukah kita menghitung nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang telah kita dapat hingga saat ini? Tentulah, TIDAK! Menghitung jumlah nikmat dalam sedetik saja kita tidak mampu, terlebih sehari bahkan selama hidup kita di dunia ini. Tidur, bernafas, makan, minum, bisa berjalan, melihat, mendengar, dan berbicara, semua itu adalah nikmat dari Allah Ta’ala, bahkan bersin pun adalah sebuah nikmat. Jika dirupiahkan sudah berapa rupiah nikmat Allah itu? Mampukah kalkulator menghitungnya? Tentulah, TIDAK! Sudah berapa oksigen yang kita hirup? Berapa kali mata kita bisa melihat atau sekedar berkedip? Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menghitungnya.(http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/mengingat-nikmat-dengan-syukur.html)

Sebagaiman Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nahl: 18)

Saya akan bercerita tentang pengalaman saya sendiri, saya sekarang sedang berkuliah tingkat akhir. Saya terkadang benci dengan sifat dari diri saya yang tak pandai bersyukur. Mudah-mudahan dengan dibuatkan nya tulisan ini bisa selalu mengingatkan saya betapa apa yang kita semua dapatkan adalh nikmat dari Allah S.W.T.

umur saya masih 20 tahun, mungkin ada beberapa hal yang selalu saya keluhkan dalam diri saya, seperti berat badan saya yang tidak proporsional, saya selalu mengeluh kenapa saya bisa bertubuh seperti ini, saya selalu menghujat diri saya bahwa saya adalah wanita yang tidak cantik seperti yang lainnya. seprti kebanyakan orang menilai bahwa cantik itu harus kurus, putih, tinggi. padahal cntik itu adalah C.A.N.T.I.K . ya, semua orang bisa dikatakan cantik, karena cantik itu relatif. tapi selalu saja, rumput tetangga lebih hijau padahal yang lebih hijaupun kalau becek ya sama aja kotor sama halnya dengan cantik, kalo meninggal ya sama aja…

bukkan hanya itu, ligkungan sekitar pun sering membuat kita selalu tidak merasa bersyukur. Seperti halnya perkembangan gadget dan fashion yang sangat cepat. ketinggalan saja satu periode maka kita akan disebut kudet, kuper, norak, dsb. bahkan lebih parahnya lagi dengan ketinggalannya seperti itu, orang bisa men-judge bahkan men-underestimate kan seseorang. “apaan loe deket-deket sama dia, dia itu norak kali, liat baju nya aja ngga banget sepatunya apalagi, itu-itu aja. payah!” “ngapain kamu temenan sama dia, liat smartphone dia aja masih ketinggalan zaman, orang lain udah pada pake ipun dia masih pake hape lokal!” “aduuuh orang mana sih dia. segala ketinggalan zaman” dan beberapa kalimat menjatuhkan lainnya. Apalagi kalo sampai kalimat-kalimat itu sampai di telinga kita. rasanya kita tidak ingin dianggap seperti itu, maka timbullah keinginan  kita untuk mendapatkan lebih dari apa yang kita dapatkan. Sehingga menyebabkan kita kurang bersyukur.

Nah jika seperti ini, perlu kita ketahui bahwa Allah telah menentukan takdir dan rezeki kita masing-masing beserta segala kekurangannya masing-masing. jika kamu melihat orang lain hidup bergelimang harta dengan ganti-ganti barang baru sesuai zaman, apakah kamu pernah berfikir bahwa dia juga memiliki kekurangan. siapa yang tau bahwa rezeki yang dia dapat bukan uang dai sendiri melainkan minta dari orangtua mereka? ada orang yang cantik namun dia memiliki kekurangan di segi lainnya misalnya dalam akademika ? atau lebih parah lagi jika apa yang di dapatkan merupakan hasil dari sesuatu yang tidak halal atau lewat jalan kemaksiatan? nadzubillah himindzalik.

Maka dari itu, kita jangan pernah menghujat kegelapan, namun berusahalah agar jadi penerang. dan ingat, bagaimana pun keadaanmu sekarang kamu masih punya orang yang akan selalu menganggapmu lebih baik, yaitu orang  tua kamu.

Jika kita terus melihat ke atas, maka tidak akan ada habisnya. tidak akan pernah ada habisnya, dan hakikatnya manusia memang tidak pernah merasa puas. Maka dari itu, cobalah kita melihat ke bawah, renungkan bahwa kita lebih beruntung daripada mereka.

syukur-2

sukur 3

kita yang masih mempunyai organ tubuh yang utuh bisa menulis, bisa berjalan, bisa duduk, dan bisa berdiri, pernahkan kita bersyukur ? sudahkan kita bersyukur ?

kita yang diberi rezeki melalui orang tua kita agar bisa merawat kita denga gizi yang baik, pakaian layak pakai, walaupun makan dengan lauk pauk seadanya atau bahkan hanya dengan kecap dan kerupuk, apa kalian pernah bersyukur dibandingkan dengan anak itu yang memulung makanan yang sangat tisak layak untuk dimakan dari sisa makanan orang lain yang sudah berserakan ditanah itu ? sementara kita terus bergulat dengan ke gengsian kita jika makan hanya dari bekal masakan rumah atau jajan di kaki lima ? dan terus makan dengan biaya mahal hanya demi gengsi? puluhan ribu bahkan ratusan ribu uang yang kita keluarkan hanya untuk sekali makan, tidakkah kita ingat masih banyak orang di luar sana yang masih susah makan ?

Astaghfirullahaladzim….semoga kita diampuni oleh Allah.

Akhir- akhir ini, ketika saya dalam perjalanan pergi pagi-pagi dan saat saya pulang malam hari selepas magrib, saya selalu melihat ada anak sekitar 10 tahun, memakai baju compang camping bekas dia TK mungkin karena bajunya baju olahraga anak TK. dengan memikul karung berisi gelas-gelas plastik dan botol minuman bekas. sungguh miris! disaat saya dan adik saya yang tidak jauh umurnya dengan anak itu sekolah dengan meminta bekal dari orang tua dan masih sangat menyusahkan orang tua, anak itu sudah berjibaku dengan sampah jalanan. sungguh saya meneteskan air mata. sayakira hanya akan saat itu saya melihat anak itu, ternyata tidak. jika saya berangkat pagi dari rumah dan pulang malam, saya selalu melihat anak itu dengan baju yang sama dan kondisi yang sama. Sesekali saya melihat anak itu bersama orang dewasa bersamanya memulung, mungkin itu ayahnya. Kenapa ayah nya setega itu membiarkan anak sekecil itu yang seharusnya mengenyam bangku sekolah dan menikmati seru nya bermain dengan teman sebaya, malah membiarkan anak itu mengenal kehidupan bahawa kehidupan = jalanan. saya sungguh prihatin.

anak-jalanan

suatu hari, saya lagi-lagi melihat dia sedang memulung, kebetulan saya ada botol2 bekas yang sengaja saya bawa dai rumah untuknya dan alhamduillah saya menemukan anak itu. saya panggil anak itu, dan saya berikan botol itu dan sedikit uang untuk sekedar mengisi perutnya. betapa terenyuh nya saya, ketika melihat ekspresi anak itu yang menatap saya berkaca-kaca dengan tanpa ucapan dia menundukan kepala lalu mengucapjan terimakasih. Mungkin sesuatu hal yang berarti untuknya yang menurut saya itu hal yang sederhana. saya tak sanggup meeteskan air mata melihatnya, saya tanya kepadanya kenapa dia tidak sekolah ? dia tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya. lalu di hari kemudiannya lagi saya bertemu dia lagi dan bertanya, nak kenapa kamu gak sekolah, coba nih kumpulkan uang kamu sedikit-sedikit, lalu bilang ke bapa mu bahwa kamu ingin sekolah. ya dia mengangguk..

betapa besar hati saya, ingin memberinya lebih agar dia bisa benar-benar sekolah, agar dia bisa mempunyai nasib yang lebih baik. namun apa daya aku tak bisa berbuat lebih karena akupun masih meminta kepada orang tua. beberapa bulan kemudian aku bertemu anak itu lagi, sembari bertanya nak gimana kok masih belum sekolah? lalu dia menjawab “Alhamdulillah atos teh, abi tos didaftarkeun masantren da teh, ke tanggal 7 mulai lebetna ” (alhamdulillah teh, saya sudah didaftarkan pesantren dan akan dimulai tanggal 7 nanti) Subhanallah, Alhamdulillah betapa senang hati ini mendengarnya bisa sekolah lagi.. kemudian tadi aku baru bertemu dengannya lagi di malam hari, aku bertanya lagi “jang, naha te sakola deui ?naha aya didieu ?” (nak, kenapa gak sekolah lagi, kok ada disini?) dia bilang “sakola da teh, tapi uih sakola sok langsung mulung deui” (sekolah kok ka, hanya pulang sekolah langsng mulung lagi) masyaaAllah.. anak itu tetap dengan senyuman polosnya tetap dengan kerajinannya dan tetap tiak ingin menyusahkan orang tua walaupun uang tiak seberapa yang penting dia apat meringankan bebean ayahnya. Saya langsung bercermin pada diri saya dimana rasa syukur saya saya selalu mengeluh tentang keadaan saya, tanpa saya bersyukur bisa lebih beruntung dari mereka. mengapa saya terbujuk pengaruh syaitan untuk selalu tidak mensyukuri apa yang telah saya dapatkan. Dua malaikat tak bersayap saya, yaitu kedua orang tua saya masih lengkap, kasih sayang mereka, pendidikan walaupun bukan di universitas negeri bersyukur bahwa kampus  itu yangterbaik untuk saya, rumah, kendaraan, alat komunikasi, pakaian, nikmat SEHAT, BERNAFAS, BERNYAWA. Astaghfirullah, nikmat Allah mana lagi yang saya dustakan, maafkan saya yaAllah. Alhamdulillah atas semuuuuuaa rezeki dan nikmat barokah mu yang telah diberikan kepada saya..

Maka daari itu, marilah kta senantiasa bersyukur. berhenti memandangi langit terlalu tinggi, tetaplah berpijak di tanah, dan lihat di bawahnya.. jangan biarkan perkataan orang lain mempengaruhi hidup kita karena bukan mereka pemilik syurga, bukan mereka yang menafkahi kita. sesuai tagline, no matter what they say just be your self..

setelah ini, saya akan mengulas lebih jauh tentang syukur.

Wassalamualaikum, semoga bermanfaat jangan ditiru yang tidak baiknya

alhammdulillah

keyword : syukur, syukur nikmat, motivasi, renungan, realita kehidupan, cara senantiasa bersyukur, cara bersyukur, indahnya berbagi, indahnya bersyukur, kedamaian hati, berhenti mengeluh, stop complaining

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s